Model-model Analisis Gender

 Ada beberapa model/teknik analisis gender yang pernah dikembangkan oleh para ahli antara lain:

1.      Model Harvard

Kerangka Analisis model Harvard dikembangkan oleh Harvard Institute for International Development, bekerjasama dengan kantor Women In Development (WID)-USAID. Model Harvard didasarkan pada pendekatan efisiensi WID yang merupakan kerangka analisis gender yang paling awal.

Secara garis besar kerangka Harvard dapat disimpulkan sebagai berikut: 

a)      Tujuan/Asumsi adalah: (a) Menunjukkan investasi dan kontribusi ekonomi gender, (b) Membantu perencanaan proyek yang efisien dan efektif, (c) Mencari informasi rinci (efisiensi proyek dan pencapaian keadilan dan kesetaraan gender) dan (d) Memetakan  tugas  perempuan dan laki-laki di tingkat masyarakat beserta faktor pembeda.

b)      Komponen/  Langkah meliputi analisis profil kegiatan 3 (tiga) peran atau triple roles (terdiri atas peran publik dengan kegiatan produktifnya, peran domestik dengan kegiatan reproduktifnya dan peran kemasyarakatan dengan kegiatan sosial budayanya), profil akses dan kontrol dan faktor yang mempengaruhi kegiatan akses dan kontrol.

2.      Model Moser

Model Moser didasarkan pada pendapat bahwa perencanaan gender bersifat “teknis polities”, kerangka ini mengasumsikan adanya konflik dalam perencanaan dan proses transformasi serta mencirikan perencanaan sebagai suatu “debat”. Alat yang digunakan kerangka ini dalam perencanaan untuk semua tingkatan dari proyek sampai ke perencanaan daerah ada 6 (enam) yaitu :

·         Alat 1 : Identifikasi Peranan Gender (“Tiga-Peran”, yang mencakup peran produkstif, reproduktif, dan kemasyarakatan/kerja sosial) yang mencakup penyusunan pembagian kerja gender/ pemetaan aktivitas laki-laki dan perempuan (termasuk anak perempuan dan anak laki-laki) dalam rumahtangga selama periode 24 jam.

·         Alat 2 : Penilaian Kebutuhan Gender. Moser mengembangkan alat ini berdasarkan konsep yang dikembangkan oleh Maxine Molyneux pada 1984. Penilaian kebutuhan gender didasari atas kebutuhan perempuan yang berbeda dengan laki-laki karena dan mempertimbangkan posisi subordinat perempuan terhadap laki-laki dalam masyarakat. Kebutuhan-kebutuhan dibedakan atas:

a)      Kebutuhan Praktis Gender, berkaitan dengan kebutuhan kehidupan seharihari seperti kebutuhan perempuan akan persediaan sumber air bersih, makanan, pemeliharaan kesehatan dan penghasilan tunai untuk kebutuhan rumahtangga, dan pelayanan dasar perumahan.  Mengidentifikasi kebutuhan praktis perempuan sangat penting untuk memperbaiki kondisi kehidupan kaum perempuan meskipun masih belum dapat merubah posisi subordinat perempuan.

b)      Kebutuhan Strategis Gender, berkaitan dengan keadaan yang dibutuhkan untuk mengubah posisi subordinat perempuan. Hal ini berhubungan dengan isu kekuasaan dan kontrol, sampai dengan eksploitasi pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin. Kebutuhan strategis berhubungan dengan perjuangan penyusunan jaminan hukum terhadap hak-hak legal, penghapusan tindak kekerasan, upah yang sama/ setara, kesetaraan dalam memiliki properti, akses untuk mendapatkan kredit dan sumberdaya lainnya dan kontrol perempuan atas tubuhnya sendiri.

·         Alat 3 : Pemisahan data/informasi berdasarkan jenis kelamin tentang kontrol atas sumberdaya dan pengambilan keputusan dalam rumahtangga (alokasi sumberdaya intra-rumahtangga dan kekuasaan dalam pengambilan keputusan dalam rumahtangga). Alat ini digunakan untuk menemukan siapa yang mengontrol sumberdaya dalam rumahtangga, siapa yang mengambil keputusan penggunaan sumberdaya dan bagaimana keputusan itu dibuat.

·         Alat 4 :Menyeimbangkan peran gender antara laki-laki dan perempuan dalam mengelola tugas-tugas produktif, reproduktif dan kemasyarakatan mereka. Perlu juga diidentifikasi apakah suatu intervensi yang direncanakan akan meningkatkan beban kerja perempuan atau menambah penderitaan kaum perempuan.

·         Alat 5 :Matriks Kebijakan WID (Women In Development) dan GAD (Gender And Development) yang akan memberikan masukan untuk pengarusutamaan gender.

·         Alat 6 :Pelibatan stakeholder yang meliputi Organisasi Perempuan dan institusi lain dalam Penyadaran Gender pada Perencanaan Pembangunan. Tujuan dari alat ini adalah untuk memastikan bahwa kebutuhan perempuan masuk dalam proses perencanaan pemerintah dalam mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender di tingkat keluarga dan masyarakat.

3.      Model SWOT (Strengthen, Weakness, Oppurtunity and Threat)

Teknik ini merupakan suatu analisis manajemen dengan cara mengidentifikasi secara internal mengenai kekuatan dan kelemahan dan secara eksternal mengenai peluang dan ancaman. Aspek internal dan Eksternal tersebut dipertimbangkan dalam kaitan dengan konsep strategis dalam rangka menyusun program aksi, langkah-langkah/tindakan untuk mencapai sasaran maupun tujuan kegiatan dengan cara memaksimalkan kekuatan dan peluang, serta meminimalkan kelemahan dan ancaman sehingga dapat mengurangi resiko dan dapat meningkakan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan.

4.      Model Longwe Framework – Kerangka Kerja ”Pemberdayaan”

Kerangka Longwe berfokus langsung pada penciptaan situasi/pengkondisian di mana masalah kesenjangan, diskriminasi dan subordinasi diselesaikan. Longwe menciptakan jalan untuk mencapai tingkat pemberdayaan dan kesederajatan (equality) di mana ditunjukan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar-praktis perempuan tidak pernah sama dengan, pemberdayaan maupun sederajat (equal). Pengambilan keputusan (kontrol) merupakan puncak dari pemberdayaan dan kesederajatan (equality).


Himawari Alumni Sosiologi USK

Tidak ada komentar untuk "Model-model Analisis Gender"